Mempertanyakan Professionalisme Dokter – Kasus M. Djamil Padang

Astagfirullah…..!!! itulah kalimat pertama yang sempat keluar dari mulut saya saat membaca informasi pagi ini di sebuah Surat Kabar Lokal di Padang, dengan Judul “Divonis Dokter Meninggal, Pasien Masih Hidup….!!“. Kenapa ini bisa terjadi…????. Profesi dokter yang selama ini dipandang masyarakat sebagai profesi yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan sangat memuliakan akan arti nyawa manusia..bukankah kehadiran dokter untuk memberikan layanan bagi pasien yang sakit agar mereka kembali ke kondisi kesehatan yang normal….!

Tetapi penilian tersebut menjadi luntur…bermain-mainkah dokter kita dengan nyawa manusia..dan memberikan layanan kepada pasiennya? lalu cukup hanya dengan mengucapkan maaf atas kekeliruan yang mereka perbuat..!

“Syaflidar (57), pasien komplikasi diabetes, gangguan ginjal dan infeksi paru-paru di RS. Djamil yang telah divonis mati oleh dr “Td” sekitar pukul 18.40, ternyata masih hidup. Bahkan keluarga yang ingin melanjutkan perwawatam Syaflidar ke ruang ICU sempat dihalang-halangi perawat dan satpam RS. M. Djamil Padang”

“Tak lama kemudian setelah keluarga berhasil sampai rtuang ICU dan ditangani dokter “Td”, dokter “Td” menutarakan permohonan maafnya, dan mengelarkan berbagai kilahan atas kekeliruannya tadi…dan berpesan “” Agar tidak menceritakan kejadian yang baru saja terjadi keluar dan tidak mempersoalkannya lagi

Itulah dua potongan informasi, yang saya kutip dari koran lokal.. sekarang mari kita coba analisa kejadian ini…dengan mata hati dan mata kemanusiaan, begitu entengnyakah arti sebuah nyawa manusia..???!, seharusnya analisa dilakukan secara lebih cermat dan kapan perlu kalau belum yakin dengan keputusan yang akan diambil, gunakan semua perlatan “canggih” yang ada, sehingga keputusan yang dikeluarkan betul-betul keputusan yang akurat dan valid..,bukan hanya sebatas diagnosa dengan sebuah stateskop dan senter…!

Coba dibayangin betapa shocknya pihak keluarga saat mendengar kalo orang yang mereka cintai telah tiada, dan ternyata masih hidup dan hanya ditutup dengan ucapan “Maaf…!!“, dan sebaliknya, masih adakah seorang dokter yang memberikan “Maaf“, disaat ada seorang pasien yang tidak sanggup membayar biaya perwatannya…!

6 Tanggapan

  1. hal sprt itu tdak bisa di diamkan.seharusnya memang dokter trsbt harus memeriksa lbh lanjut. menurut saya dokter itu harus dipecat dari pekerjaannya sebagai dokter,krn telah melanggar kode etik dalam kedokteran.
    benar2 tak bisa di maafkan….

  2. emang bener-bener tuh pak,
    dokternya itu ga punya otak dan ga punya perasaan,
    ga punya otak karena ga bener-bener mastiin tuh pasien apa masih idup atau beneran mati dan ngeluarin vonis mati buat pasien,
    ga punya perasaan karena ga mikirin sebab yang diakibatkan vonis yang dia katakan…

  3. Hm… Alhamdulillah pasiennya selamat. Menurut saya sih emang kalo kita lihat satu sisi tindakan Dr tersebut kurang tepat. Tapi…. itulah kita “MANUSIA” yang memiliki keterbatasan kemampuan. Mungkin secara kelimuan yang dimiliki Dr tersebut seharusnya pasien tersebut tidak dapat tertolong. Tapi…. kita harus ingat, ada Allah dibalik semua itu yang mampu berbuat sekehendak-Nya. Menurut saya mungkin keluarga pasien yang awalnya panik menjadi sangat bahagia, terharu dan bersyukur ketika ternyata pasien sembuh dan baik-baik saja.. Bagaimana kalo Dr bilang “Saudara tenang saja, kami akan menanganinya. Ada kemungkinan sembuh kok!” Ternyata pasien tersebut meninggal, keluarganya justru akan kecewa banget karena sebelumnya dikasih rambu bakal sembuh. Mungkin……. stress banget, kecewa dan menyalahkan Dr yang tidak bertanggungjawab dengan ucapannya. OK! Positive Thingking. Get Spirit Open Mind. Allaahuakbar!!!

  4. Profesionilitas memang erat kaitannya dengan Tanggungjawab, dan bagi sebagian orang harus ada uang dulu baru bisa profesional…

    Dokter bermain-main dengan nyawa…akibatnya mati.. dimana tanggungjawabmu…??, Guru bermain-main dalam mengajar muridnya, akibatnya kualitas pendidikan yang bobrok..akan jadi apa bangsa ini…??
    Seandainya worker service electronic bermain-main dengan alat servisnya, akibatnya rusak, akan tetapi MASIH BISA DIGANTI. Kalau Nyawa…???
    Memang…Tanggungjawab terhadap nyawa manusia itu tidak bisa disamakan dengan tanggungjawab benda mati…

    Kasus di atas, menurut pendapat I, karena kenyataan yang kita lihat, mereka (red”) sudah terbiasa melihat penderitaan orang lain jadi yaaa.. dianggap biasa..NyAwA melayang yaaa juga biasa bagi mereka kali yeee….
    Tetapi yang mulia bagi mereka adalah uAnG……. jadi peralatan canggih sebagai validasi hanya untuk orang-orang yang beRuAnG…. he..he

  5. Mati Suri tuh orang kali ya Pak… Allah Maha Kuasa…

    Ayam saya dikampung ada juga tuh..yang kayak tu tu.. di vonis sudah mati tetapi saat mau di buang…ternyata masih hidup…(waktu dibuang e e langsung terbang tu AyAm) aYaM kampus kali yeeee… jUsT KiDiNg

  6. emang tdk seharusnya dr begitu, tp mgkin dia ketika memeriksa lagi tidur…….dan ketika bagun dari tidurnya ternyata pasiennya masih hidup….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: