Dilema Pendidikan TI Kita

Kebutuhan akan tenaga kerja di bidang teknologi informasi, senantiasa bertambah dan meningkat dari tahun ke tahun, dan sejak tahun 90-an hingga saat ini bidang TI ini menjadi “Booming” di Indonesia, hal ini dapat dibuktikan  dengan menjamurnya perguruan tinggi-perguruan tinggi swasta yang bergerak di bidang ini, seakan-akan pemerintah (dalam hal DepDikNas) membuka keran sebesar-besarnya bagi pengembangan calon intelektual dan tenaga professional TI di Tanah Air. Demikian juga halnya dengan perguruan tinggi negeri, mulai dari membuka program studi, jurusan hingga fakultas yang bergerak dalam pendidikan TI (ilmu komputer, teknologi informasi, teknik informatika, manajemen informatika dan berbagai jenis nama lainnya).

Dari sisi kebijakan program yang dikeluarkan oleh DikNas, dapat juga kita lihat beberapa tahun belakangan ini, bagaimana pemerintah memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan TI ini di tanah air dan implementasinya dalam program pendidikan, sepertinya lahirnya jaringan pendidikan nasional (Jardiknas), Jaringan pendidikan tinggi (INHERENT), Hibah PTIK dan sejenisnya.

Namun  dari semua program tersebut, muncul suatu dilema yang cukup  memprihatinkan, terutama dari sisi besarnya biaya investasi untuk peralatan pendukung TI, dan usia pakai perangkat tersebut dan hubungannya dengan utilisasi peralatan sesuai dengan usia pakai dan usia layak guna.

Kenapa hal ini saya kemukakan sebagai dilema? Coba kita bayangkan untuk bidang komputer, usia pakai dan layak pakai perangkat tersebut berkisar antara 2 – 3 tahun, dan setelah itu maka teknologi yang kita pakai akan dianggap orang sebagai teknologi yang ketinggalan, sementara bagi perguruan tinggi yang mensuplai peralatan laboratorium secara mandiri, akan merasakan betapa beratnya beban pengadaan peralatan yang harus dilakukan, di sisi lain, bagi perguruan tinggi yang memperoleh pengadaan peralatan melalui hibah juga muncul dilema lain, panjangnya proses pengadaan dan tender yang harus dilakukan, menjadi salah satu penyebab tidak optimalnya utilisasi peralatan, karena pada saat diusulkan, dirasakan sebagai teknologi yang terbaik saat itu, namun pada saat perangkat datang, ternyata semuanya sudah sangat terlambat, sehingga upaya yang dilakukan adalah memberika pendidikan TI kepada mahasiswa dengan peralatan yang tidak sesuai lagi dengan kebutuhan pangsa pasar dan industri…. dan ini adalah kendala yang banyak dihadapi oleh mahasiswa yang mengambil peminatan di bidang yang berhubungan dengan perangkat keras komputer (misalnya bidang teknik komputer dan jaringan). Pada akhirnya, banyak perguruan tinggi kita beralih ke pengembangan program studi yang menghasilkan programmer, karena untuk membuat suatu program barangkali tidak akan menuntut spesifikasi hardware yang tinggi.

2 Tanggapan

  1. setelah kemaren ikut seminar Bpk Onno w.Purbo, saya sangat kagum terhadap beliau, seorang ahli TI Indonsia yang sudah terkenal di Internasional. Semoga beliau dapat memajukan TI Indonesia terutama Sumbar. Dan salut buat Politeknik Negeri Padang, yang menyediakan dana Rp.1 Miliar buat TI mereka. salut deh. dan mereka dapat menghadirkan Bpk Onno w.purbo ke politeknik negeri padang.

    salam from http://www.m3nok.co.cc

  2. Berkunjung dan baca infonya, mudah-mudahan bermanfaat bagi banyak orang, sukses ya.
    I Like Relationship.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: