Ketika Cinta Harus Memilih…..

Don’t leave your profession as teacher…!!
(Institute of Education, University of London)

Tulisan tersebut adalah sebuah kalimat yang terpampang besar di salah satu leaflet yang ada di Institute of Education, University of London. Hampir semua orang di Indonesia setuju dan sepakat bahwa mutu pendidikan kita saat ini sangat jauh menurun, sehingga menjadikan kita semakin tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara yang baru mulai fokus melangkahkan kakinya dalam memajukan pendidikan. Sebutlah Vietnam (sebagai sebuah negara yang beru terbebas dari pergolakan dalam negeri yang berkepanjangan), dalam sejumlah jurnal yang saya lihat di sini, sangat banyak penelitian yang dipublikasikan berkaitan dengan perkembangan dan perbaikan mutu pendidikan di Vietnam, dan ketika saya coba menelusuri penelitian tentang pendidikan di Indonesia (my loved country) ternyata sangat sedikit literature yang dapat di lihat, hanya ada satu buku yang ditulis oleh Dr. Roy Gardner, pada tahuan 1980-an.

Ditengah kelesuan dunia pendidikan kita, disamping tingkat keterjangakauan biaya pendidikan yang semakin tinggi, masyarakat juga dihadapkan dengan persoalan professionalisme guru dalam mengemban tugasnya sebagai pendidik. Kenapa hal ini saya kemukakan… saya melihat dan merasakan bagaimana jatuhnya semangat para pendidik kita secara drastis, ketika keputusan tentang pengadaan laptop bagi guru yang tergabung sebagai “Master Teacher Intel Education” dibatalkan oleh pengambil kebijakan di Departemen Pendidikan Nasional…??
Ratusan komentar tentang ini muncul, hampir semuanya memandang dari sudut negatif, mengapa kebijakan ini dibatalkan??? Pemerintah tidak konsisten, Diknas tidak benar, Pemerintah tidak serius, dan puluhan komentar berirama negatif lainnya muncul dan mencuat ke permukaan…!! Komentar-komentar tersebut ada yang saya terima melalui email saya, kemudian juga ada dapat ditemukan di mailing list Getting Started Course, yang dikelola oleh teman-teman dari Intel Education Indonesia, sebagai tempat berbagi dan curhatan semua Master Teacher se Indonesia.

Profesi adalah jiwa…!!! Ketika jiwa tidak pelihara dengan baik, ketika jiwa tidak di bina dengan sempurna, ketika suara jiwa tidak laksanakan dengan sungguh-sungguh… apa yang akan terjadi…??? Kita akan mendapatkan pribadi-pribadi manusia yang limbung, goyah, tergoncang dan tidak teguh pendirian..atau justru yang lebih parah kita akan memperolah pribadi yang tidak bernyawa lagi….!!!.
Kenapa saya katakan profesi sebagai jiwa…?? Coba kita renungkan baik-baik, profesi guru adalah pekerjaan yang selama ini kita jalani dan tekuni, dengan profesi ini darah kita tetap mengalir dengan baik dari jantung ke seluruh nadi…, dengan profesi ini jiwa anak-anak dan keluarga terselamatkan, dengan profesi ini keluarga masih tetap utuh, dengan profesi ini kita masih tetap eksis di tengah kehidupan sosial yang morat marit, dengan profesi ini kita masih tetap bisa tersenyum di setiap awal bulan datang, dengan profesi ini dunia perbankan menaruh kepercayaan, dengan profesi ini jutaan rupiah kredit dialirkan dan dengan profesi ini…….!!! Masih banyak lagi manfaat lain yang tidak dapat disebutkan, ketika kita hidup dengan profesi sebagai pendidik.
Kemuliaan sebagai pendidik adalah sesuatu yan tidak ternilai harganya (priceless thing). Ratusan jiwa anak-anak bangsa terselamatkan dari kebodohan, dari kemiskinan, dari ketidak tahuan, dari keterbelakangan, dari ketertinggalan….semua karena kita sungguh-sungguh dalam menjalani profesi sebagai pendidik.
Memang dalam realita kehidupan di tengah masyarakat, kehidupan tenaga pendidik kita belum “sangat sejahtera” jika kita bercermin ke negara-negara yang sudah sangat mapan dan maju, tapi ingat bukankah Rasulullah sudah mengajarkan kepada kita “Dalam urusan akhirat layangkanlah pandanganmu ke atas, tetapi dalam urusan dunia tundukkkanlah pandanganmu ke bawah”. Di kala kita cendrung melihat ke atas dalam gemerlapnya dunia maka mata kita akan cepat lelah, silau oleh matahari, gampang terkena debu dan masih banyak lagi yang lainnya, sedangkan ketika mata di tundukkan ke bawah kita akan lebih hati-hati dalam melangkah, mata lebih sehat dan terjaga, pandangan senantiasa bermakna positif, bahwa masih banyak orang lain yang hidupnya lebih susah dari kita.

Sehingga dengan kondisi ini, hampir sebagian tenaga pendidik kita telah berpaling cinta dari profesinya, mengajar dan mendidik hanya sekedar memenuhi tuntutan status sosial sebagai Pegawai Negeri Sipil, menunaikan tugas di dalam kelas hanya 2 x 50 menit, kemudian menghabiskan waktu dengan bersenda gurau, duduk di kantin, main geplek dan banyak lagi aktiftas lainnya yang tidak produktif. Sangat jarang kita melihat ada yang bekerja, membaca buku, memperbaharui pengetahuannya… dengan seribu alasan, toh dengan cara seperti ini saja saya masih bisa mengsuasi kelas dengan baik sehingga belum membutuhkan persiapan dalam mengajar di kelas. “Self Evaluation” yang salah seperti inilah yang seharusnya segera diperbaiki dan dibuang jauh-jauh… seharusnya “what can I do tommorow” harus direncanakan sejak hari ini, sehingga apa yang telah kita perbuat haru esok harus lebih baik dari hari ini… inilah yang sesungguhnya yang dimaksud dengan evaluasi diri.
Mengapa…??? Karena sudah hampir 60 % tenaga pendidik memiliki profesi ganda, banyak diantaranya lebih fokus kepada profesinya yang kedua, apakah sebagai pedagang, wirswastawan, dan banyak profesi lainnya… dengan alasan, karena sebagai guru penghasilannya sudah jelas di setiap bulan, maka yang tidak jelas ini yang harus lebih dimantapkan….!!!

Cinta harus memilih….!!! antara mengikuti keinginan duniawi, dengan konsep demi kehidupan yang lebih baik, tapi mengorbankan profesi dan amanah yang telah diemban sejak pertama kali diangkat (tapi saya heran juga… udah tau jadi guru gajinya kecil, tapi kok masih diterima juga..??) atau dengan serius menjalani profesi pendidik, dengan inovasi dan pembaharuan yang terus dilakukan…!!!.

Kalau saya melihat dan merasakan dan bahkan mengalami secara langsung, ternyata pilihan yang kedua jauh lebih baik dan mendatangkan kepuasan batin yang luar biasa dan ini tidak bisa di hargai dengan uang… ketika salah seorang saudara saya yang membuka usaha grosiran di timur Indonesia meminta saya untuk meninggalkan profesi pendidik yang hanya dengan penghasilan 1, 5 – 2 jt / bulan, dan mengelola usahanya dengan sistem komputer, saya ditawari pengasilan yang sangat fantastis… dengan halus saya jawab, bahwa inilah profesi yang menjadi panggilan jiwa saya…!!! Menjadi pendidik adalah pekerjaan dan profesi paling mulia di atas dunia ini, bahkan Allahpun sudah menjamin, bahwa orang yang berilmu adalah orang yang dimulia lebih tinggi beberpa derajat dari orang lain, haruskah kemuliaan ini kita buang dan di sia-siakan karena alasan materil….???

Mari kita ranungkan kembali, ratusan juta jiwa bangsa ini menunggu peran tenaga pendidik untuk mengisi dan memberikan bekal untuk menghadapi hari esok… haruskan jiwa-jiwa ini kita sia-siakan hanya karena keegoisan diri, hanya karena ketidak puasan dalam menikmati hidup bergelimang material dan harta di dunia.. haruskah kita biarkan bangsa ini semakin hancur, karena tersia-siakannya pendidikan…???

Mari kita jawab bersama, kita tuntaskan bersama, kita bina bersama, kita bangung bersama, kita tegakkan bersama, kita perbaiki bersama, kita sempurnakan bersama… Pendidikan Nasional kita…!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: